DALAM MATA PELAJARAN SAINS
(IPA)
OLEH :
SEBASTIANUS
DARMAN
2013260227
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
FLORES
ENDE
2016
BAB I
PENDAHULUAN
3.1
Latar Belakang
Model pembelajaran
merupakan landasan praktik pembelajaran. Model pembelajaran dapat diartikan
pula sebagai pola yang digunakan untuk penyusunan kurikulum, mengatur materi,
dan memberi petunjuk kepada guru di kelas. Model pembelajaran ialah pola yang
digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran dikelas maupun
tutorial. Model pembelajaran dapat didefinisikan sebagai kerangka konseptual
yang melukiskan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar
untuk memperoleh tujuan belajar. Model pembelajaran berfungsi pula sebagai
pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para guru dalam merencanakan
aktifitas belajar mengajar.
3.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian
singkat di atas, maka penulis dapat menjabarkan rumusan masalah yang dibahas pada makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apa itu model pembelajaran langsung?
2. Apa itu model pembelajaran kooperatif?
3. Apa itu model pembelajaran berbasis masalah?
4. Apa itu model pembelajaran kontekstual?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
MODEL PEMBELAJARAN
Istilah model
pembelajaran banyak dipergunakan. Milis berpendapat bahwa model adalah bentuk
representasi akurat sebagai proses aktual yang memungkinkan seseorang atau
sekelompok orang mencoba bertindak berdasarkan model itu. Model merupakan
interpretasi terhadap hasil observasi dan pengukuran yang diperoleh dari
beberapa sistem.
Model
pembelajaran merupakan landasan praktik pembelajaran. Model pembelajaran dapat
diartikan pula sebagai pola yang digunakan untuk penyusunan kurikulum, mengatur
materi, dan memberi petunjuk kepada guru di kelas. Model pembelajaran ialah
pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran dikelas
maupun tutorial. Model pembelajaran dapat didefinisikan sebagai kerangka
konseptual yang melukiskan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan
pengalaman belajar untuk memperoleh tujuan belajar. Model pembelajaran
berfungsi pula sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para guru
dalam merencanakan aktifitas belajar mengajar.
3.3
MODEL PEMBELAJARAN DAN JENIS-JENISNYA
Model
pembelajaran (Teaching Models) atau (Models of Teaching) memiliki makna lebih luas dari metode, strategi/pendekatan dan prosedur. Istilah
model pembelajaran adalah pendekatan tertentu dalam pembelajaran yang tercakup
dalam tujuan, sintaks, lingkungan dan sistem manajemen (Arends, 1997:7)
Adapun
ciri-ciri dari model pembelajaran dapat digambarkan sebagai berikut.
Sintak dalam
model pembelajaran merupakan urutan tahap-tahap yang selalu diikuti dalam pembelajaran.
Jenis-jenis
model pembelajaran menurut Richard I. Arends antara lain: model pembelajaran
langsung (Direct Instruction), model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning),
model pembelajaran berdasarkan masalah (Problem Based Instructions) dan
strategi-strategi belajar (Learning Strategies) serta ada juga model
pembelajaran kontekstual.
3.2.1
Model Pembelajaran Langsung
1)
Pengertian Model
Pembelajaran Langsung
Model pembelajaran langsung
menekankan pada penguasaan konsep dan atau perubahan perilaku dengan
mengutamakan pendekatan deduktif. Pembelajaran langsung atau Direct instruction
dikenal dengan sebutan Active Teaching. Pembelajaran langsung juga dinamakan
whole-class teaching. Teori pendukung pembelajaran langsung adalah teori
behaviorisme dan teori belajar sosial. Berdasarkan kedua teori tersebut,
pembelajaran langsung menekankan belajar sebagai perubahan perilaku.
Behaviorisme menekankan belajar sebagai proses stimulus – respon bersifat
mekanis, teori belajar sosial beraksentuasi pada perubahan perilaku bersifat
organis melalui peniruan.
Modelling adalah pendekatan utama
dalam pembelajaran langsung. Modelling berarti mendemonstrasikan suatu prosedur
kepada peserta didik. Modelling mengikuti urutan sebagai berikut: (1) Guru
mendemonstrasikan perilaku yang hendak dicapai sebagai hasil belajar (2)
Perilaku itu dikaitkan dengan perilaku-perilaku lain yang sudah dimiliki
peserta didik (3) Guru mendemonstrasika berbagai bagian perilaku tersebut
dengan cara yang jelas, terstruktur, dan berurutan disertai penjelasan mengenai
apa yang dikerjakan setelah setiap langkah selesai dikerjakan (4) Peserta didik
perlu mengingat langkah-langkah yang dilihatnya dan kemudian menirukannya.
Model-model yang ada dilingkungan
senantiasa memberikan rangsangan kepada peserta didik yang membuat peserta
didik memberikan tindak balas jika rangsangan tersebut terkait dengan keadaan
peserta didik. Ada tiga macam model yaitu: (1) Live model, adalah model yang
berasal dari kehidupan nyata (2) Symbolic model, adalah model yang berasal dari
perumpamaan (3) Verbal description model, adalah model yang dinyatakan dalam
uraian verbal.
Pembelajaran langsung dengan
pendekatan modeling membutuhkan penguasaan sepenuhnya terhadap apa yang
dibelajarkan (dimodelkan) dan memerlukan latihan sebelum menyampaikan dikelas.
Modeling efektif juga menuntut peserta didik mempunyai atensi dan motivasi
terhadap perilaku yang dimodelkan. Tanpa hal tersebut proses observasional lainnya
yang dibutuhkan dalam pembelajaran langsung dengan modeling tidak akan berjalan
optimal. Proses yang dimaksud adalah retensi atau reproduksi.
Atensi adalah para peserta didik
memperhatikan aspek-aspek kritis dari apa yang dipelajari. Atensi adalah mengonsentrasikan
dan memfokuskan sumber daya mental. Salah satu keahlian penting dalam
memperhatikan adalah seleksi. Atensi bersifat seleksi karena sumber daya otak
terbatas.
Reproduksi merupakan upaya
merekonstruksi citra mental dari informasi. Pengkonstrusian ini terjadi pada
elaborasi informasi. Elaborasi adalah ekstensifitas pemrosesan informasi dalam
penyandian. Pada tahap ini segala bayangan atau citra mental maupun kode-kode
simbolis yang berisi informasi pengetahuan dan perilaku yang telah tersimpan dalam
memori peserta didik itu diproduksi
kembali.
Pembelajaran langsung dirancang
untuk penguasaan pengetahuan procedural, pengetahuan deklaratif (pengetahuan
faktual) serta berbagai ketrampilan. Pembelajaran langsung dimaksudkan untuk
menuntaskan dua hasil belajar yaitu penguasaan pengetahuan yang distrukturkan
dengan baik dan penguasaan ketrampilan.
Sintak pembelajaran langsung dapat
dilihat pada tebel 2.1 berikut sebagai berikut:
Tabel Sintak Pembelajaran
FASE-FASE
|
PERILAKU GURU
|
Fase 1: Establishing Set
Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan peserta didik.
|
Menjelaskan tujuan pembelajaran, informasi latar belakang
pelajaran, mempersiapkan peserta didik untuk belajar
|
Fase 2: Demonstrating
Mendemonstrasikan pengetahuan atau ketrampilan
|
Mendemonstrasikan ketrampilan yang benar, menyajikan informasi
tahap demi tahap
|
Fase 3: Guided Practice.
Membimbing pelatih
|
Merencanakan dan memberi pelatihan awal
|
Fase 4: Feed Back.
Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik
|
Mengecek apakah peserta didik telah berhasil melakukan tugas
dengan baik, memberi umpan balik
|
Fase 5: Extended Practice
Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan
|
Mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan, dengan
perhatian khusus pada situasi yang lebih kompleks dalam kehidupan
sehari-hari.
|
Menurut Daniel Muijs dan David
Reynold, kelima fase pembelajaran langsung dapat dikembangkan sebagai berikut:
Directing. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran kepada seluruh kelas dan
memastikan bahwa semua peserta didik mengetahui apa yang harus dikerjakan dan
menarik peserta didik pada poin-poin yang membutuhkan perhatain khusus.
a.
Instructing. Guru memberi
informasi dan menstrukturalisasi dengan baik.
b.
Demonstrating. Guru
menunjukkan, mendeskripsikan, dan membuat model dengan menggunakan sumber serta
Display Visual yang tepat.
c.
Explaining and Ilustrating.
Guru memberikan penjelasan yang akurat dengan tingkat kecepatan yang pas dan
merujuk pada metode sebelumnya.
d.
questioning and Discussing.
Guru bertanya dan memastikan seluruh peserta didik ikut ambil bagian, dengan
memberikan pertanyaan terbuka dan tertutup serta memperhatikan dengan seksama
respon jawaban dari peserta didik.
e.
Cocolidating. Guru
memaksimalkan kesempatan menguatkan dan mengembangkan apa yang sudah
diajarkanmelaluai berbagai macam kegiatan dikelas.
f.
Evaluating pupil’s respon. Guru
mengevaluasi presentasi hasil kerja peserta didik.
g.
Summarizing. Guru merangkum apa
yang telah diajarkan dan apa yang telah dipelajari peserta didik selama dan
menjelang akhir pelajaran, serta mengoreksi kesalahpahaman yang mungkin terjadi.
Pelaksanaan model pembelajaran
langsung membutuhkan lingkungan belajar
dan system pengelolaan. Dalam pembelajan langsung guru mengintruksasikan
lingkungan belajarnya dengan sangat ketat, mempertahankan fokus akademis, dan
berharap peserta didik menjadi pengamat, pendengar, partisipan yang tekun.
2)
Tujuan Pembelajaran
Langsung.
Pembelajaran langsung memiliki dua
tujuan utama. Dua tujuan utama dari pembelajaran langsung adalah memaksimalkan
waktu belajar siswa dan mengembangkan kemandirian dalam mencapai dan mewujudkan
tujuan pendidikan. Perilaku-perilaku guru yang tampak berhubungan dengan
prestasi siswa sesungguhnya juga berhubungan dengan waktu yang dimiliki siswa
dan rating kesuksesan mereka dalam mengerjakan tugas, yang pada gilirannya juga
berhubungan erat dengan prestasi siswa.
3) Kelebihan dan Keterbatasan Model Pembelajaran Langsung
Semua model pembelajaran yang
digunkan dalam proses pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan. Berikut
kelebihan dan kekurangan model pembelajaran langsung.
a. Kelebihan model pembelajaran langsung.
1)
Model pembelajaran langsung,
guru mengendalikan isi materi dan urutan informasi yang diterima oleh siswa
sehingga dapat mempertahankan fokus mengenai apa yang harus dicapai oleh siswa.
2)
Dapat diterapkan secara efektif
dalam kelas yang besar maupun kecil.
3)
Dapat digunakan untuk
menekankan poin-poin penting atau kesulitan-kesulitan yang mungkin dihadapi
siswa sehingga hal-hal tersebut dapat diungkapkan.
4)
Dapat menjadi cara yang efektif
untuk mengajarkan informasi dan pengetahuan faktual yang sangat terstruktur.
5)
Merupakan cara yang paling
efektif untuk mengajarkan konsep dan keterampilan-keterampilan yang eksplisit
kepada siswa yang berprestasi rendah.
6)
Dapat menjadi cara untuk
menyampaikan informasi yang banyak dalam waktu yang relatif singkat yang dapat
diakses secara setara oleh seluruh siswa.
7)
Memungkinkan guru
untuk menyampaikan ketertarikan pribadi mengenai mata pelajaran (melalui
presentasi yang antusias) yang dapat merangsang ketertarikan dan dan antusiasme
siswa.
8)
Ceramah merupakan cara yang
bermanfaat untuk menyampaikan informasi kepada siswa yang tidak suka membaca
atau yang tidak memiliki keterampilan dalam menyusun dan menafsirkan informasi.
9)
Secara umum, ceramah adalah
cara yang paling memungkinkan untuk menciptakan lingkungan yang tidak mengancam
dan bebas stres bagi siswa. Para siswa yang pemalu, tidak percaya diri, dan
tidak memiliki pengetahuan yang cukup tidak merasa dipaksa dan berpartisipasi
dan dipermalukan.
10)
Model pembelajaran langsung
dapat digunakan untuk membangun model pembelajaran dalam bidang studi tertentu.
Guru dapat menunjukkan bagaimana suatu permasalahan dapat didekati, bagaimana
informasi dianalisis, dan bagaimana suatu pengetahuan dihasilkan.
11)
Pengajaran yang eksplisit
membekali siswa dengan ”cara-cara disipliner dalam memandang dunia dengan
menggunakan perspektif-perspektif alternatif” yang menyadarkan siswa akan
keterbatasan perspektif yang inheren dalam pemikiran sehari-hari.
12)
Model pembelajaran langsung
yang menekankan kegiatan mendengar (misalnya ceramah) dan mengamati (misalnya
demonstrasi) dapat membantu siswa yang cocok belajar dengan cara-cara ini.
13)
Ceramah dapat bermanfaat untuk
menyampaikan pengetahuan yang tidak tersedia secara langsung bagi siswa,
termasuk contoh-contoh yang relevan dan hasil-hasil penelitian terkini.
14)
Model pembelajaran langsung
(terutama demonstrasi) dapat memberi siswa tantangan untuk mempertimbangkan
kesenjangan yang terdapat di antara teori (yang seharusnya terjadi) dan
observasi (kenyataan yang mereka lihat).
15)
Demonstrasi memungkinkan siswa
untuk berkonsentrasi pada hasil-hasil dari suatu tugas dan bukan teknik-teknik
dalam menghasilkannya. Hal ini penting terutama jika siswa tidak memiliki
kepercayaan diri atau keterampilan dalam melakukan tugas tersebut.
16)
Siswa yang tidak dapat
mengarahkan diri sendiri dapat tetap berprestasi apabila model pembelajaran
langsung digunakan secara efektif.
17)
Model pembelajaran
langsung bergantung pada kemampuan refleksi guru sehingga guru
dapat terus menerus mengevaluasi dan memperbaikinya.
b.
Keterbatasan Model Pembelajaran Langsung:
1)
Model pembelajaran langsung
bersandar pada kemampuan siswa untuk mengasimilasikan informasi melalui
kegiatan mendengarkan, mengamati, dan mencatat. Karena tidak semua siswa
memiliki keterampilan dalam hal-hal tersebut, guru masih harus mengajarkannya
kepada siswa.
2)
Dalam model pembelajaran langsung,
sulit untuk mengatasi perbedaan dalam hal kemampuan, pengetahuan awal, tingkat
pembelajaran dan pemahaman, gaya belajar, atau ketertarikan siswa.
3)
Karena siswa hanya memiliki
sedikit kesempatan untuk terlibat secara aktif, sulit bagi siswa untuk mengembangkan
keterampilan sosial dan interpersonal mereka.
4)
Karena guru memainkan peran
pusat dalam model ini, kesuksesan strategi pembelajaran ini bergantung pada
image guru. Jika guru tidak tampak siap, berpengetahuan, percaya diri,
antusias, dan terstruktur, siswa dapat menjadi bosan, teralihkan perhatiannya,
dan pembelajaran mereka akan terhambat.
5)
Terdapat beberapa bukti
penelitian bahwa tingkat struktur dan kendali guru yang tinggi dalam kegiatan
pembelajaran, yang menjadi karakteristik model pembelajaran langsung, dapat
berdampak negatif terhadap kemampuan penyelesaian masalah, kemandirian, dan
keingintahuan siswa.
6)
Model pembelajaran langsung
sangat bergantung pada gaya komunikasi guru. Komunikator yang buruk cenderung
menghasilkan pembelajaran yang buruk pula dan model pembelajaran langsung
membatasi kesempatan guru untuk menampilkan banyak perilaku komunikasi positif.
7)
Jika materi yang disampaikan
bersifat kompleks, rinci, atau abstrak, model pembelajaran langsung mungkin
tidak dapat memberi siswa kesempatan yang cukup untuk memproses dan memahami
informasi yang disampaikan.
8)
Model pembelajaran langsung
memberi siswa cara pandang guru mengenai bagaimana materi disusun dan
disintesis, yang tidak selalu dapat dipahami atau dikuasai oleh siswa. Siswa
memiliki sedikit kesempatan untuk mendebat cara pandang ini.
9)
Jika model pembelajaran
langsung tidak banyak melibatkan siswa, siswa akan kehilangan perhatian setelah
10-15 menit dan hanya akan mengingat sedikit isi materi yang disampaikan.
10)
Jika terlalu sering digunakan,
model pembelajaran langsung akan membuat siswa percaya bahwa guru akan
memberitahu mereka semua yang perlu mereka ketahui. Hal ini akan menghilangkan
rasa tanggung jawab mengenai pembelajaran mereka sendiri.
11)
Karena model pembelajaran
langsung melibatkan banyak komunikasi satu arah, guru sulit untuk mendapatkan
umpan balik mengenai pemahaman siswa. Hal ini dapat membuat siswa tidak paham
atau salah paham.
12) Demonstrasi sangat bergantung pada keterampilan pengamatan siswa.
Sayangnya, banyak siswa bukanlah pengamat yang baik sehingga dapat melewatkan
hal-hal yang dimaksudkan oleh guru.
3.2.2
Model Pembelajaran Kooperatif
1)
Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Adalah
pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa
untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan
belajar.
Pada
dasarnya manusia mempunyai perbedaan, dengan perbedaan itu manusia saling asah,
asih, asuh (saling mencerdaskan). Dengan pembelajaran kooperatif diharapkan
saling menciptakan interaksi yang asah, asih, asuh sehingga tercipta masyarakat
belajar (learning community). Siswa tidak hanya terpaku belajar pada guru,
tetapi dengan sesama siswa juga.
Pembelajaran
kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sengaja mengembangkan
interaksi yang silih asuh untuk menghindari ketersinggungan dan kesalahpahaman
yang dapat menimbulkan permusuhan, sebagai latihan hidup di masyarakat.
2)
Ciri-Ciri Pembelajaran Kooperatif
Didalam
pembelajaran kooperatif terdapat elemen-elemen yang berkaitan. Menurut Lie ( 2004 ) :
a.
Saling ketergantungan positif
Dalam
pembelajaran kooperatif, guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa
merasa saling membutuhkan atau yang biasa disebut dengan saling ketergantungan
positif yang dapat dicapai melalui : saling ketergantungan mencapai tujuan,
saling ketergantungan menyelesaikan tugas, saling ketergantungan bahan atau
sumber, saling ketergantungan peran, saling ketergantungan hadiah.
b.
Interaksi tatap muka
Dengan
hal ini dapat memaksa siswa saling bertatap muka sehingga mereka akan
berdialog. Dialog tidak hanya dilakukan dengan guru tetapi dengan teman sebaya
juga karena biasanya siswa akan lebih luwes, lebih mudah belajarnya dengan
teman sebaya.
c.
Akuntabilitas individual
Pembelajaran
kooperatif menampilkan wujudnya dalam belajar kelompok. Penilaian ditunjukkan
untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pelajaran secara individual.
Hasil penilaian ini selanjutnya disampaikan oleh guru kepada kelompok agar
semua kelompok mengetahui siapa kelompok yang memerlukan bantuan dan siapa yang
dapat memberikan bantuan,maksudnya yang dapat mengajarkan kepada temannya.
Nilai kelompok tersebut harus didasarkan pada rata-rata, karena itu anggota
kelompok harus memberikan kontribusi untuk kelompnya. Intinya yang dimaksud
dengan akuntabilitas individual adalah penilaian kelompok yang didasarkan pada
rata-rata penguasaan semua anggota secara individual.
d.
Keterampilan menjalin hubungan
antar pribadi
Keterampilan sosial dalam menjalin hubungan antar
siswa harus diajarkan. Siswa yang tidak dapat menjalin hubungan antar pribadi
akan memperoleh teguran dari guru juga siswa lainnya.
3)
Unsur – Unsur Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut
Roger dan David Johnson ada 5 unsur dalam model pembelajaran kooperatif, yaitu
:
a.
Positive interdependence ( saling
ketergangtungan positif )
Unsur
ini menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif ada 2 pertanggungjawaban
kelompok. Pertama, mempelajari bahan yang ditugaskan kepada kelompok. Kedua,
menjamin semua anggota kelompok secara individu mempelajari bahan yang
ditugaskan tersebut.
Beberapa
cara membangun saling ketergantungan positif yaitu :
o
Menumbuhkan
perasaan peserta didik bahwa dirinya terintegrasi dalam kelompok, pencapaian
tujuan terjadi jika semua anggota kelompok mencapai tujuan.
o
Mengusahakan
agar semua anggota kelompok mendapatkan penghargaan yang sama jika kelompok
mereka berhasil mencapai tujuan.
o
Mengatur
sedemikian rupa sehingga setiap peserta didik dalam kelompok hanya mendapatkan
sebagian dari keseluruhan tugas kelompok.
o
Setiap
peserta didik ditugasi dengan tugas atau peran yang saling mendukung dan saling
berhubungan, saling melengkapi dan saling terikat dengan peserta didik lain
dalam kelompok.
b.
Personal responsibility (
tanggung jawab perorangan )
Tanggung
jawab perorangan merupakan kunci untuk menjamin semua anggota yang diperkuat
oleh kegiatan belajar bersama.
c.
Face to face promotive
interaction ( interaksi promotif )
Unsur ini penting untuk dapat menghasilkan saling
ketergantungan positif. Ciri – ciri interaksi promotif
adalah :
-
Saling
membantu secara efektif dan efisien
-
Saling
memberi informasi dan sarana yang diperlukan
-
Memproses
informasi bersama secara lebih effektif dan efisien
-
Saling mengingatkan
-
Saling percaya
-
Saling memotivasi untuk
memperoleh keberhasilan bersama
d. Interpersonal
skill (komunikasi antar anggota / ketrampilan)
Dalam unsur ini berarti mengkoordinasikan
kegiatan peserta didik dalam pencapaian tujuan
peserta didik, maka hal yang perlu dilakukan yaitu :
a)
Saling mengenal dan mempercayai
b)
Mampu berkomunikasi secara
akurat dan tidak ambisius
c)
Saling menerima dan saling
mendukung
d)
Mampu
menyelesaikan konflik secara konstruktif.
e.
Group processing ( pemrosesan
kelompok )
Dalam hal ini
pemrosesan berarti menilai. Melalui pemrosesan kelompok dapat diidentifikasi
dari urutan atau tahapan kegiatan kelompok dan kegiatan dari anggota kelompok.
Hal ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas anggota dalam memberikan
kontribusi terhadap kegiatan kolaboratif untuk mencapai tujuan kelompok.
4)
Sintak Model Pembelajaran Kooperatif
FASE – FASE
|
PERILAKU GURU
|
Fase
1 : present goals and set
Menyampaikan tujuan dan memper siapkan peserta didik
|
Menjelaskan tujuan pembelajaran dan
mempersiapkan peserta didik siap belajar.
|
Fase 2 : present information
Menyajikan informasi
|
Mempresentasikan informasi kepada paserta
didik secara verbal.
|
Fase
3 : organize students into learning teams
Mengorganisir peserta didik ke dalam tim – tim belajar
|
Memberikan penjelasan kepada peserta didik
tentang tata cara pembentukan tim belajar dan membantu kelompok melakukan
transisi yang efisien.
|
Fase 4 : assist team work and study
Membantu kerja tim dan belajar
|
Membantu tim- tim belajar selama peserta
didik mengerjakan tugasnya.
|
Fase
5 : test on the materials
Mengevaluasi
|
Menguji
pengetahuan peserta didik mengenai berbagai materi pembelajaran atau
kelompok- kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
|
Fase 6 : provide recognition
Memberikan
pengakuan atau penghargaan
|
Mempersiapkan cara untuk mengakui usaha dan
prestasi individu maupun kelompok.
|
5)
Tujuan Pembelajaran Kooperatif
a. Meningkatkan hasil belajar akademik
Meskipun
pembelajaran kooperatif meliputi berbagai macam tujuan social, tetapi juga
bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas – tugas akademik.
Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami
konsep – konsep yang sulit.
b. Penerimaan terhadap keragaman
Pembelajaran
kooperatif memberi peluang kepada siswa yang berbada latar belakang dan kondisi
untuk bekerja saling bergantung satu sama lain atas tugas – tugas bersama.
c. Pengembangan ketrampilan social
Mengajarkan
kepada siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi untuk saling berinteraksi
dengan teman yang lain.
3.2.3
Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah
1)
Pengertian
Menurut Departemen Pendidikan
Nasional (2003), ciri utama pembelajaran berbasis masalah meliputi
mengorientasikan siswa kepada masalah atau pertanyaan yang autentik.
multidisiplin, menuntut kerjasama dalam penyelidikan, dan menghasilkan karya.
Dalam pembelajaran berbasis masalah situasi atau masalah menjadi titik tolak
pembelajaran untuk memahami konsep, prinsip dan mengembangkan keterampilan
memecahkan masalah.
Menurut Ratumanan (diakses dari http://nsant.student.fkip.uns. ac.id/), pembelajaran berdasarkan
masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses berpikir
tingkat tinggi. Pembelajaran ini membantu siswa untuk memproses informasi yang
sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia
sosial dan sekitarnya. Pembelajaran ini cocok untuk mengembangkan pengetahuan
dasar maupun kompleks.
Pembelajaran berdasarkan masalah
artinya pembelajaran didasarkan pada masalah sehari-hari dan dalam pembelajaran
siswa diajak untuk memecahkannya. Melalui pembelajaran semacam itu siswa akan merasa
ditantang untuk mengajukan gagasan. Biasanya akan muncul berbagai gagasan dan
siswa akan saling memberikan alasan dari gagasan yang diajukan. Dalam proses
pembahasan, gagasan itu akan terjadi interaksi dan pemaduan gagasan yang pada
akhirnya mengarah pada saling melengkapi. Siswa biasanya sangat senang karena
merasa mampu memecahkan masalah yang diberikan.
Pembelajaran Berbasis Masalah atau
sering disebut dengan Problem Based Learning ini memiliki beberapa arti,
diantaranya :
1.
Menurut Boud dan Felleti,
(1997), Fogarty (1997) menyatakan bahwa model pembelajaran berbasis masalah
adalah suatu pendekatan pembelajaran dengan membuat konfrontasi kepada
pebelajar (siswa/mahasiswa) dengan masalah-masalah praktis, berbentuk
ill-structured, atau open ended melalui stimulus dalam belajar.
2.
Menurut Arends (Nurhayati
Abbas, 2000: 12) menyatakan bahwa model pembelajaran berbasis masalah adalah
model pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran siswa pada masalah autentik,
sehingga siswa dapat menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuhkembangkan
keterampilan yang lebih tinggi dan inquiri, memandirikan siswa, dan
meningkatkan kepercayaan diri sendiri.
3.
Menurut Ward, 2002: Stepien,
dkk., 1993 menyatakan bahwa model berbasis masalah adalah suatu model
pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan suatu masalah melalui
tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang
berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan untuk
memecahkan masalah.
4.
Ratnaningsih, 2003: menyatakan
bahwa pembelajaran berbasis masalah adalah suatu pembelajaran yang menuntut
aktivitas mental siswa untuk memahami suatu konsep pembelajaran melalui situasi
dan masalah yang disajikan pada awal pembelajaran.
2)
Unsur-unsur PBL
Berbagai pengembang pembelajaran berbasis
masalah telah menunjukkan ciri-ciri pengajaran berbasis masalah sebagai
berikut.
- Pengajuan masalah atau pertanyaan
Pengajaran berbasis masalah bukan
hanya mengorganisasikan prinsip-prinsip atau ketrampilan akademik tertentu,
pembelajaran berdasarkan masalah mengorganisasikan pengajaran di sekitar
pertanyaan dan masalah yang kedua-duanya secara sosial penting dan secara
pribadi bermakna untuk siswa. Mereka dihadapkan situasi kehidupan nyata yang
autentik , menghindari jawaban sederhana, dan memungkinkan adanya berbagai
macam solusi untuk situasi itu. Menurut Arends (dalam Abbas, 2000:13),
pertanyaan dan masalah yang diajukan haruslah memenuhi criteria sebagai
berikut.
a.
Autentik
Yaitu masalah harus lebih berakar
pada kehidupan dunia nyata siswa dari pada berakar pada prinsip-prinsip
disiplin ilmu tertentu.
b.
Jelas
Yaitu masalah dirumuskan dengan
jelas, dalam arti tidak menimbulkan masalah baru bagi siswa yang pada akhirnya
menyulitkan penyelesaian siswa.
c.
Mudah dipahami.
Yaitu masalah yang diberikan hendaknya
mudah dipahami siswa. Selain itu masalah disusun dan dibuat sesuai dengan
tingkat perkembangan siswa.
d.
Luas dan sesuai dengan
tujuan pembelajaran.
Yaitu masalah yang disusun dan
dirumuskan hendaknya bersifat luas, artinya masalah tersebut mencakup seluruh
materi pelajaran yang akan diajarkan sesuai dengan waktu, ruang dan sumber yang
tersedia. Selain itu, masalah yang telah disusun tersebut harus didasarkan pada
tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
e.
Bermanfaat.
Yaitu masalah yang telah disusun dan
dirumuskan haruslah bermanfaat, baik siswa sebagai pemecah masalah maupun guru
sebagai pembuat masalah. Masalah yang bermanfaat adalah masalah yang dapat
meningkatkan kemampuan berfikir memecahkan masalah siswa, serta membangkitkan
motivasi belajar siswa.
- Penyelidikan autentik
Pengajaran berbasis masalah siswa
melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap
masalah nyata. Mereka harus menganalisis dan mendefinisikan masalah,
mengembangkan hipotesis dan membuat ramalan, mengumpulkan dan menganalisis
informasi, melakukan eksperimen (jika diperlukan), membuat inferensi dan
merumuskan kesimpulan. Metode penyelidikan yang digunakan bergantung pada
masalah yang sedang dipelajari.
3.
Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya
Pengajaran berbasis masalah menuntut
siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artefak
dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang
mereka temukan. Produk itu dapat berupa transkip debat, laporan, model fisik, video
atau program komputer (Ibrahim & Nur, 2000:5-7 dalam Nurhadi, 2003:56)
- Kerjasama.
Model pembelajaran berbasis masalah
dicirikan oleh siswa yang bekerjasama satu sama lain, paling sering secara
berpasangan atau dalam kelompok kecil. Bekerjasama memberikan motivasi untuk
secara berkelanjutan terlibat dalam tugas-tugas kompleks dan memperbanyak
peluang untuk berbagi inkuiri dan dialog dan untuk mengembangkan keterampilan
sosial dan keterampilan berpikir.
3)
Prosedur PBL
Arends (2004)
merinci langkah-langkah pelaksanaan PBL dalam pengajaran. Arends mengemukakan
ada 5 fase (tahap) yang perlu dilakukan untuk mengimplementasikan PBL.
Fase-fase tersebut merujuk pada tahap-tahapan praktis yang dilakukan dalam
kegiatan pembelajaran dengan PBL sebagaimana disajikan pada :
Fase Aktivitas
guru
Fase 1:
Mengorientasikan siswa/ mahasiswa pada masalah
Pembelajaran dimulai
dengan menjelaskan tujuan pembelajaran dan aktivitas-aktivitas yang akan
dilakukan. Dalam penggunaan PBL, tahapan ini sangat penting dimana guru/dosen
harus menjelaskan dengan rinci apa yang harus dilakukan oleh siswa/mahasiswa
dan juga oleh dosen. Disamping proses yang akan berlangsung, sangat penting
juga dijelaskan bagaimana guru/dosen akan mengevaluasi proses pembelajaran. Hal
ini sangat penting untuk memberikan motivasi agar siswa dapat engage dalam
pembelajaran yang akan dilakukan.
Fase 2:
Mengorganisasikan siswa/ mahasiswa untuk belajar
Disamping
mengembangkan ketrampilan memecahkan masalah, pembelajaran PBL juga mendorong
siswa/mahasiswa belajar berkolaborasi. Pemecahan suatu masalah sangat
membutuhkan kerjasama dan sharing antar anggota. Oleh sebab itu, guru/dosen
dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan membentuk kelompok-kelompok siswa
dimana masing-masing kelompok akan memilih dan memecahkan masalah yang berbeda.
Prinsip-prinsip pengelompokan siswa dalam pembelajaran kooperatif dapat
digunakan dalam konteks ini seperti: kelompok harus heterogen, pentingnya
interaksi antar anggota, komunikasi yang efektif, adanya tutor sebaya, dan
sebagainya. Guru/dosen sangat penting memonitor dan mengevaluasi kerja
masing-masing kelompok untuk menjaga kinerja dan dinamika kelompok selama
pembelajaran.
Setelah mahasiswa
diorientasikan pada suatu masalah dan telah membentuk kelompok belajar
selanjutnya guru dan mahasiswa menetapkan subtopik-subtopik yang spesifik,
tugas-tugas penyelidikan, dan jadwal. Tantangan utama bagi guru pada tahap ini
adalah mengupayakan agar semua mahasiswa aktif terlibat dalam sejumlah kegiatan
penyelidikan dan hasil-hasil penyelidikan ini dapat menghasilkan penyelesaian
terhadap permasalahan tersebut.
Fase 3:
Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok
Penyelidikan adalah
inti dari PBL. Meskipun setiap situasi permasalahan memerlukan teknik
penyelidikan yang berbeda, namun pada umumnya tentu melibatkan karakter yang
identik, yakni pengumpulan data dan eksperimen, berhipotesis dan penjelasan,
dan memberikan pemecahan. Pengumpulan data dan eksperimentasi merupakan aspek
yang sangat penting. Pada tahap ini, guru harus mendorong mahasiswa untuk
mengumpulkan data dan melaksanakan eksperimen (mental maupun aktual) sampai
mereka betul-betul memahami dimensi situasi permasalahan. Tujuannya adalah agar
mahasiswa mengumpulkan cukup informasi untuk menciptakan dan membangun ide
mereka sendiri. Pada fase ini seharusnya lebih dari sekedar membaca tentang
masalah-masalah dalam buku-buku. Guru membantu mahasiswa untuk mengumpulkan
informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber, dan ia seharusnya mengajukan
pertanyaan pada mahasiswa untuk berifikir tentang massalah dan ragam informasi
yang dibutuhkan untuk sampai pada pemecahan masalah yang dapat dipertahankan.
Fase 4:
Mengembangkan dan menyajikan artifak (hasil karya) dan mempamerkannya
Tahap penyelidikan
diikuti dengan menciptakan artifak (hasil karya) dan pameran. Artifak lebih
dari sekedar laporan tertulis, namun bisa suatu videotape (menunjukkan situasi
masalah dan pemecahan yang diusulkan), model (perwujudan secara fisik dari
situasi masalah dan pemecahannya), program komputer, dan sajian multimedia. Tentunya
kecanggihan artifak sangat dipengaruhi tingkat berfikir mahasiswa. Langkah
selanjutnya adalah mempamerkan hasil karyanya dan guru berperan sebagai
organisator pameran. Akan lebih baik jika dalam pemeran ini melibatkan
mahasiswa-mahasiswa lainnya, guru-guru, orangtua, dan lainnya yang dapat
menjadi “penilai” atau memberikan umpan balik.
Fase 5:
Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah
Fase ini merupakan
tahap akhir dalam PBL. Fase ini dimaksudkan untuk membantu mahasiswa
menganalisis dan mengevaluasi proses mereka sendiri dan kete-rampilan
penyelidikan dan intelektual yang mereka gunakan. Selama fase ini guru meminta
mahasiswa untuk merekonstruksi pemikiran dan aktivitas yang telah dilakukan
selama proses kegiatan belajarnya. Kapan mereka pertama kali memperoleh
pemahaman yang jelas tentang situasi masalah? Kapan mereka yakin dalam
pemecahan tertentu? Mengapa mereka dapat menerima penjelasan lebih siap
dibanding yang lain? Mengapa mereka menolak beberapa penjelasan? Mengapa mereka
mengadopsi pemecahan akhir dari mereka? Apakah mereka berubah pikiran tentang
situasi masalah ketika penyelidikan berlangsung? Apa penyebab perubahan itu?
Apakah mereka akan melakukan secara berbeda di waktu yang akan datang? Tentunya
masih banyak lagi pertanyaan yang dapat diajukan untuk memberikan umpan balik
dan menginvestigasi kelemahan dan kekuatan PBL untuk pengajaran.
Tabel Langkah-langkah (Sintaksis)
Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Fase
|
Peran Guru
|
1. Orientasi siswa
kepada masalah
|
Guru menjelaskan tujuan
pembelajaran, menjelaskan segala hal yang akan dibutuhkan, memotivasi siswa
terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya
|
2.
Mengorganisasi siswa untuk belajar
|
Guru membantu siswa
mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan
masalah
|
3. Membimbing
penyelidikan individual maupun kelompok
|
Guru mendorong siswa
untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen atau
pengamatan untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah
|
4. Mengembangkan
dan menyajikan hasil karya
|
Guru membantu siswa
dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai, melaksanakan eksperimen
atau pengamatan untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah
|
5. Menganalisis dan
mengevaluasi proses pemecahan masalah
|
Guru membantu siswa
untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan
proses-proses yang mereka gunakan
|
3.2.4
Kontekstual (CTL,
Contextual Teaching and Learning)
1.
Pengertian
Menurut Nur Hadi CTL adalah konsep
belajar yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan
dan situasi dunia nyata siswa.
Menurut Jonhson CTL adalah sebuah
proses pendidikan yang bertujuan untuk menolong para siswa melihat siswa
melihat makna didalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara
menghubungkan subyek-subyek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian
mereka.
Jadi pengertian CTL dari pendapat
para tokoh-tokoh diatas dapat kita simpulkan bahwa CTL adalah konsep belajar
yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkanya dengan situasi
dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.
2.
Tujuan
a.
Model pembelajaran CTL ini
bertujuan untuk memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan
mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari
sehingga siswa memiliki pengetahuan atu ketrampilan yang secara refleksi dapat
diterapkan dari permasalahan kepermasalahan lainya.
b.
Model pembelajaran ini
bertujuan agar dalam belajar itu tidak hanya sekedar menghafal tetapi perlu
dengan adanya pemahaman
c. Model pembelajaran ini menekankan pada
pengembangan minat pengalaman siswa.
d. Model pembelajaran CTL ini bertujuan untuk melatih siswa
agar dapat berfikir kritis dan terampil dalam memproses pengetahuan agar dapat
menemukan dan menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan
orang lain
e. Model pembelajaran CTL ini bertujun agar
pembelajaran lebih produktif dan bermakna
f. Model pembelajaran model CTL ini bertujuan untuk mengajak
anak pada suatu aktivitas yang mengkaitkan materi akademik dengan konteks
jehidupan sehari-hari
g. Tujuan pembelajaran model CTL ini bertujuan agar siswa secara
indinidu dapat menemukan dan mentrasfer informasi-informasi komplek dan siswa
dapat menjadikan informasi itu miliknya sendiri.
3.
Strategi-Strategi Pembelajaran CTL
Beberapa strategi pembelajaran yang
perlu dikembangkan oleh guru secara konstektual antara lain :
a.
Pembelajaran berbasis masalah.
Dengan memunculkan problem yang
dihadapi bersama,siswa ditantang untuk berfikir kritis untuk memecahkan .
b.
Menggunakan konteks yang beragam.
Dalam CTL guru membermaknakan
pusparagam konteks sehingga makna yang diperoleh siswa menjadi berkualitas.
c.
Mempertimbangkan kebhinekaan siswa.
Guru mengayomi individu dan menyakini
bahwa perbedaan individual dan social seyogianya dibermaknakan menjadi mesin penggerak untuk
belajar saling menghormati dan toleransi
untuk mewujudkan ketrampilan interpersonal.
d.
Memberdayakan siswa untuk belajar sendiri.
Pendidikan formal merupakan kawah
candradimuka bagi siswa untuk menguasai cara belajar untuk belajar mandiri
dikemudian hari.
e.
Belajar melalui kolaborasi
Dalam setiap kolaborasi selalu ada
siswa yang menonjol dibandingkan dengan koleganya dan sisiwa ini dapat
dijadikan sebagai fasilitator dalam kelompoknya
f.
Menggunakan penelitian autentik
Penilaian autentik menunjukkan bahwa
belajar telah berlangsung secara terpadu dan konstektual dan memberi kesempatan
pada siswa untuk dapat maju terus sesuai dengan potensi yang dimilikinya
g.
Mengejar standar tinggi
Setiap seyogianya menentukan
kompetensi kelulusan dari waktu kewaktu terus ditingkatkan dan setiap sekolah hendaknya melakukan
Benchmarking dengan melukan study banding keberbagai sekolah dan luar negeri
Berdasarkan Center for Occupational Research and Development (CORD)
Penerapan strategi pembelajaran konstektual digambarkan sebagai berikut:
a.
Relatinng
Belajar dikatakan
dengan konteks dengan pengalaman nyata, konteks merupakan kerangka kerja yang
dirancang guru untuk membantu peserta
didik agar yang dipelajarinya bermakna.
b.
Experiencing
Belajar adalah
kegiatan “mengalami “peserta didik diproses secara aktif dengan hal yang
dipelajarinya dan berupaya melakukan eksplorasi terhadap hal yang
dikaji,berusaha menemukan dan menciptakan hal yang baru dari apa yang
dipelajarinya.
c.
Applying
Belajar menekankan
pada proses mendemonstrasikan pengetahuan yang dimiliki dengan dalam konteks
dan pemanfaatanya.
d.
Cooperative
Belajar merupakan
proses kolaboratif dan kooperatif melalui kegiatan kelompok, komunikasi interpersonal
atau hubunngan intersubjektif.
e.
Trasfering
Belajar
menenkankan pada terwujudnya kemampuan memanfaat-kan pengetahuan dalam situasi atau konteks baru.
4.
Landasan Filosofi Model Pembelajaran Kontekstual
Para pendidik yang menyetujuai
pandangan ilmu pengetahuan bahwa alam semesta itu tidak hidup,tidak diam ,dan
alam semesta itu ditopang oleh tiga prinsip kesaling
ketergantungan,diferensiasi dan organisasi diri, harus menerapkan pandangan dan
cara berfikir baru mengenai pembelajaran dan pengajaran.
Menurut JONHSON(2004) tiga
pilar dalam system CTL antara lain :
a.
CTL mencerminkan prinsip kesaling ketergantungan
Kesaling ketergantungan mewujudkan
diri.Misalnya ketika para siswa bergabung untuk memecahkan masalah dan ketika
para guru mengadakan pertemuan dengan rekanya .Hal ini tampak jelas ketika subyek yang berbeda dihubungkan dan
ketika kenitraan menggabungkan sekolah dengan dunia bisnis dan komunitas.
b.
CTL mencerminkan prinsip berdeferensiasi
Ketika CTL menentang para siswa untuk
saling menghormati keunikan masing-masing ,untuk menghormati perbedaan,untuk
menjadi kreatif, untuk bekerja sama ,untuk menghasilkan gagasan dan hasil baru
yang berbeda, dan untuk menyadari bahwa keragaman adalah tabda kemantapan dan
kekuatan.
c.
CTL mencerminkan prinsip pengorganisasian diri
Pengorganisasian diri terlihat para
siswa mencari dan menemukan kemampuan dan minat mereka sendiri yang berbeda
,mendapat manfaat dari umpan balik yang diberiakan oleh penilaian
autentik,mengulas usaha-usaha mereka dalam tuntunan tujuan yang jelas dan
standar yang tinggi dan berperan serta dalam kegiatan-kegiatan yang berpusat
pada sisiwa yang membuat hati mereka bernyanyi.
Landasan filosofi CTL adalah
kontruktivisme, yaitu filosofi belajar
yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal .siswa harus
mengkontruksi pengetahuan dibenak mereka sendiri. Pengetahuan tidak dapat
dipisahkan menjadi fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan
ketrampilan yang dapat diterapkan. Kontruktivisme berakar pada filsafat
pragmatiisme yang digagas John Dewey pada awal abad ke-20 yaitu sebuah filosofi
belajar yang menekankan pada pengembangan minat dan pengalaman siswa.
Anak akan belajar belajar lebih baik
jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak
mengalami apa yang dipelajarinya bukan hanya mengetahuinya.
5.
Komponen-Komponen Pembelajaran CTL
Komponen-komponen model pembelajaran
CTL ini antara lain :
b.
Kontruktivisme
Kontruktivisme
adalah proses membangun dan menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif
siswa berdasarkan pengalaman.
Pembelajaran ini
harus dikemas menjadi proses ”mengkontruksi” bukan menerima pengetahuan.
c.
Inquiry
Inquiry adalah
proses pembelajaran yang didasrkan pada proses pencarian penemuan melalui
proses berfikir secara sistematis.
Merupakan proses
pemindahan dari pengamatan menjadi pemahaman sehingga siswa belajar mengunakan
ketrampilan berfikir kritis.
Langkah-langkah
dalam proses inquiry antara lain :
a.
Merumuskan masalah
b.
Mengajukan hipotesis
c.
Mengumpilkan data
d.
Menuji hipotesis
e.
Membuat kesimpulan
d.
Bertanya
Bertanya dalah bagian inti belajar dan menemukan pengetahuan .
e.
Masyarakat belajar
Menurut Vygotsky
dalam masyarakat belajar ini pengetahuan dan pengalaman anak banyak dibentuk
oleh komunikasi dengan orang lain.
f.
Pemodelan
Pemodelan adalah
proses pembelajaran dengan memperagakan sebagai sustu contoh yang dapat ditiru
oleh siswa.
g.
Refleksi
Refleksi adalah
proses pengengalaman yang telah dipelajari dengan cara mengerutkan dan
mengevalusi kembali kejadian atau peristiwa pembelajaran telah dilaluinya untuk
mendapatkan pemahaman yang dicapai baik yang bersifat positif maupun bernilai
negative.
h.
Penilaian nyata
Penilaian nyata
adalah proses yang dilukan oleh guru untuk mengumpulkan informasi tentang
perkembangan belajar yang dilakukan oleh siswa.
6.
Langkah-Langkah Pembelajaran CTL
Langkah-langkah pembelajaran CTL antara
lain :
a)
Mengembangkan pemikiran bahwa
anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri,menemukan sendiri
,dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya.
b) Melaksanakan
sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk semua topic
c) Mengembangkan
sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
d)
Menciptakan masyarakat belajar
e)
Menghadirkan model sebagia
contoh belajar
f)
Melakukan refleksi diakhir
pertemuan.
g)
Melakukan penialain yang
sebenarnya dengan berbagai cara.
Ciri kelas yang menggunakan
pendekatan konstektual :
a)
Pengalaman nyata
b)
Kerja sama, saling menunjang
c)
Gembira, belajar dengan
bergairah
d)
Pembelajaran terintegrasi
e)
Menggunakan berbagai sumber
f)
Siswa aktif dan kritis
g)
Menyenangkan, tidak membosankan
h)
Sharing dengan teman
i)
Guru kreatif
7.
Kelebihan dan Kelemahan
v
Kelebihan dari model pembelajaran CTL :
a)
Memberikan
kesempatan pada sisiwa untuk dapat maju terus sesuai dengan potensi yang
dimiliki sisiwa sehingga sisiwa terlibat aktif dalam PBM.
b)
Siswa
dapat berfikir kritis dan kreatif dalam mengumpulkan data, memahami suatu isu
dan memecahkan masalah dan guru dapat lebih kreatif
c)
Menyadarkan
siswa tentang apa yang mereka pelajari.
d)
Pemilihan
informasi berdasarkan kebutuhan siswa tidak
ditentukan oleh guru.
e)
Pembelajaran
lebih menyenangkan dan tidak membosankan.
f)
Membantu
siwa bekerja dengan efektif dalam kelompok.
g)
Terbentuk sikap kerja sama yang
baik antar individu maupun kelompok.
v
Kelemahan dari model pembelajaran CTL :
a) Dalam pemilihan informasi atau materi dikelas didasarkan pada kebutuhan siswa
padahal,dalam kelas itu tingkat kemampuan siswanya berbeda-beda sehinnga
guru akan kesulitan dalam menetukan materi pelajaran karena tingkat
pencapaianya siswa tadi tidak sama
b) Tidak efisien karena membutuhkan waktu
yang agak lama dalam PBM
c) Dalam proses pembelajaran dengan model CTL
akan nampak jelas antara siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan siswa yang
memiliki kemampuan kurang, yang kemudian menimbulkan rasa tidak percaya diri
bagi siswa yang kurang kemampuannya
d) Bagi siswa yang tertinggal dalam proses
pembelajaran dengan CTL ini akan terus tertinggal dan sulit untuk mengejar
ketertinggalan, karena dalam model pembelajaran ini kesuksesan siswa tergantung
dari keaktifan dan usaha sendiri jadi siswa yang dengan baik mengikuti setiap
pembelajaran dengan model ini tidak akan menunggu teman yang tertinggal dan
mengalami kesulitan.
e) Tidak setiap siswa dapat dengan mudah
menyesuaikan diri dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki dengan penggunaan
model CTL ini.
f) Kemampuan setiap siswa berbeda-beda, dan
siswa yang memiliki kemampuan intelektual tinggi namun sulit untuk
mengapresiasikannya dalam bentuk lesan akan mengalami kesulitan sebab CTL ini
lebih mengembangkan ketrampilan dan kemampuan soft skill daripada kemampuan intelektualnya.
g) Pengetahuan yang didapat oleh setiap siswa akan berbeda-beda
dan tidak merata.
h) Peran guru tidak nampak terlalu penting
lagi karena dalam CTL ini peran guru hanya sebagai pengarah dan pembimbing,
karena lebih menuntut siswa untuk aktif dan berusaha sendiri mencari informasi,
mengamati fakta dan menemukan pengetahuan-pengetahuan baru di lapangan
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Penerapan model pembelajaran secara
benar mengikuti sintaknya serta sesuai karakter materi, serta karakter siswa,
maka penerapan model pembelajaran yang tentu saja didahului dengan suatu
pengembangan diharapkan mampu meningkatkan penguasaan teknologi pembelajaran,
karena kemandirian aktif siswa dalam belajar.
Penerapan model pembelajaran secara
benar mengikuti sintaknya serta sesuai karakter materi, serta karakter siswa,
maka penerapan model pembelajaran yang tentu saja didahului dengan suatu
pengembangan diharapkan mampu meningkatkan penguasaan teknologi pembelajaran,
karena kemandirian aktif siswa dalam belajar.
Pembelajaran dengan pendekatan SCL
memiliki ciri-ciri : mengutamakan tercapainya kompetensi siswa;
memberikan pengalaman belajar siswa; siswa harus dapat menunjukkan
belajar/kinerjanya; pemberian tugas menjadi pokok dalam belajar siswa/kinerja
siswa; siswa mempresentasikan penyelesaian tugasnya, dibahas bersama,
dikoreksi, dan diperbaiki; penilaian proses sama pentingnya dengan penilaian
hasil.
DAFTAR PUSTAKA
Arends, Richard I. 1996. Classroom Instructional and Management.
The McGraw- Hill Cpmpanies, Inc.
Bruce Joyce & Marsha Weil. 1996.
Models of Teaching Fifth Edition.
Boston Allyn and Bacon
Mohamad Nur. 2004. Model-model Pembelajaran. FMIPA
Universitas Negeri Surabaya
Walter R. Borg and Meredith D. Gall.
1983. Educational Research. New York
& London: Longman


Tidak ada komentar:
Posting Komentar